DI BAWAH LANGIT ILAHI


Mencoba merenungi makna hidup yang tengah dijalani, mencari jati diri yang masih bimbang ditelan peristiwa.

Menanti kapan semua akan berakhir, ahh belum kawan, perjuangan itu belum usai.
Masih menunggu air surga kembali menjamah kerongkonganku, hingga tak ada lagi lantunan syair selain menyebut asmamu.
Disini, di bawah langit sang pencipta,
aku,
dengan segala keterbatasan dan kelebihanku,
mencoba merubah apa yang menurutku tak pantas.
Semboyan itu : Amar Ma'ruf Nahi Munkar wa Fastabiqul Khairat akan terus menggema.
Tak lain dan tak bukan adalah untuk tuhanku,
berharap ridho atas semua perjuangan ini.
Disini, dibawah langit ilahi, aku sudah berjanji pada doa-doa itu,
akan kupersembahkan diriku bagi kebahagiaan dunia dan senyuman akhirat.
^_^

Tampilkan postingan dengan label Mutiara ILmu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mutiara ILmu. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Februari 2011


BAGAIMANA BERBUAT UNTUK ISLAM ?
[Seri Panduan Praktis]


*      1. Anda bisa berbuat untuk islam, bila niat dan tekad anda benar, maka Allah Subhanahu wata’ala akan memberkahi dan suatu perbuatan yang betul-betul ikhlas mencari keridhoan-Nya walaupun sedikit. Keikhlasan bila sudah menyatu dengan ketaatan walaupun kecil atau sedikit menurut kacamata pelakunya, namun ia ikhlas dan tulus. Maka keikhlasan dan penghambaannya kepada Allah akan sempurna dan Allah akan mengampuni dosa-dosa besarnya, sebagaimana yang diterangkan dalam hadits “bitoqoh”.

*      2. Anda dapat berkhidmat umtuk islam, jika anda tahu jalan, lalu berjalan diatasnya. Jalan yang lurus adalah jalan yang sesuai dengan sunnah Rasulullah Subhanahu wata’ala dalam berda’wah, yang disertai kesabaran, kelemah-lembutan dan menyayangi manusia, karena mereka adalah orang-orang yang sakit karena maksiat dan dosa.

*       3.Anda berkhidmat untuk islam, bila anda memanfaatkan segala macam kesempatan dan peluang yang tersedia. Ini merupakan nikmat yang sangat besar, dalam berda’wah semua sarana boleh digunakan, kecuali apa yang telah diharamkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dan apa yang menyelisihi sunnah Rasulullah Subhanahu wata’ala. Dan dalam memanfaatkan semua sarana, haruslah berdasarkan dalil dan kaidah islam yang benar.

*       4.Anda berkhidmat untuk islam, jika anda mengutamakan kepentingan islam daripada kepentingan jiwa dan harta anda. Berkhidmat untuk islam artinya, perjuangan anda disertai dengan memberikan dan mengorbankan sesuatu yang mahal dan berharga untuk kepentingan islam dan kaum muslimin, baik itu harta benda, tenaga, waktu, pemikiran atau ide-ide maupun manfaat lainnya. Tidakkah anda melihat orang yang sangat senang olah raga khususnya sepak bola. Bagaimana mereka menghabiskan segala daya, waktu dan hartanya untuk mendukung tim yang dicintainya!? Maka anda harusnya lebih banyak berkorban daripada mereka dan jangan ragu-ragu. Karena bukanlah ia merupakan suatu “perjuangan” bila tanpa “pengorbanan”.

*    5.   Berbuat untuk islam, bila anda menempuh jalan yang ditempuh oleh para ‘ulama, para da’i dan orang-orang yang senang berbuat kebaikan dalam islam. Maka anda haruslah memiliki kesabaran dalam menghadapi segala tantangan dan cobaan, serta tahan sakit dan tahan lelah. Karena anda sedang melaksanakan suatu amanah dan ibadah yang sangat agung, yang telah diemban oleh para pejuang Allah, yaitu para Nabi dan Rasul Allah, dan orang-orang yang mengikuti jalan atau manhaj mereka.

*       6.Berkhidmat untuk islam, jika anda menjauhi sifat malas dalam berda’wah, sifat lemah dan pengecut. Karena sifat tersebut bukanlah sifat para pejuang Allah. Dan karena agama islam ini adalah agama kekuatan, keberanian dan selalu maju yang tidak mudah menyerah menghadapi “secuil” rintangan. Tidak ada yang menghambat laju da’wah melainkan sebab dari sifat loyo, malas, bertindak gegabah dan bodoh.

*      7. Anda bisa berbuat untuk islam, bila selalu menghubungkan hati anda dengan Allah U dan senantiasa memperbanyak do’a dan istighfar serta kontinyu didalam men-tadabburi ayat-ayat dari Al Qur’an. Tidak ada cara yang lebih baik untuk mengkilatkan dan membersihkan kembali hati dan ruh kita agar mampu terus bekerja dan berda’wah, melainkan dengan memperbanyak dzikir dan mendekatkan diri dalam ketaatan serta menunaikan amalan-amalan sunnah.

*    8.   Anda berbuat untuk islam, bila anda memiliki hubungan dan senantiasa dekat dengan para ‘ulama, yang mempunyai andil besar dalam memperjuangkan dan memurnikan agama Allah ini. Karena dengan berjalan dan berda’wah dibawah bimbingan ‘ilmu dan arahan dari mereka merupakan suatu kebaikan yang agung dan sangat banyak manfaatnya.

*     9.  Berbakti untuk islam, jika anda mampu untuk memenej atau mengatur waktu harian, mingguan atau bulanan anda. Karena ada amalan-amalan yang hanya dapat diselesaikan dalam sehari, seminggu atau sebulan bahkan setahun. Contoh jadwal harian ; anda menda’wahi orang yang anda lihat setiap hari. Jadwal mingguan ; anda menda’wahi orang yang bisa anda temui atau kunjungi seminggu sekali. Jadwal bulanan ; berkumpulnya keluarga setiap bulan. Dan jadwal tahunan, seperti ; pertemuan akbar setahun sekali atau pergi haji dan umroh. Dan begitu seterusnya.

*       10.Anda bisa berbuat untuk islam, bila anda telah memberikan sebagian keinginan, waktu, pikiran serta ide-ide cemerlang dan sebagian harta anda untuk kemajuan islam. Sehingga islam menjadi sesuatu yang selalu diperjuangkan dan memang demikianlah semestinya. Dan islam senantiasa menjadi kebiasaan anda ; dalam berbuat, berjalan, berpikir dan berjuang serta duduk hanyalah untuk islam.

*      11.Anda berbuat untuk islam, bila setiap menemukan pintu-pintu kebaikan, maka anda bersegera menujunya dalam memberikan andil untuk islam, tidak ragu-ragu dan tidak mengakhirkan atau menunda-nundanya.

seruhlah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.”
[QS. An Nahl : 125]
“siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal shalih “
[QS. Fushshilat : 33]


Diketik ulang dari buku “Bagaimana berkhidmat untuk islam”_Judul Asli “Kaifa Akhdumul Islam ?”_Penulis : Abdul Malik bin Muhammad Al Qasim_Penerbit : Pustaka Al Sofwa.

Dipublikasikan oleh Departemen Sosial dan Humas Yayasan Abu Bakar Ash-Shiddiq Kendari
Sekretariat : Jl. Malaka (Depan Gerbang Utama) Kampus Baru – UNHALU. Telp : 395276
ASAL USUL MANUSIA
DI DALAM ISLAM
[Membantah kedustaan TEORI EVOLUSI]

Oleh
Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta

Pertanyaan.
Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta ditanya : Ada yang mengatakan bahwa manusia berasal dari kera yang berevolusi. Apakah ini benar.?

Jawaban.
Perkataan ini tidak benar. Dalilnya adalah sebagaimana yang terdapat di dalam Al-Qur’an ketika Allah menjelaskan tentang perkembangan penciptaan Adam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya : Sesungguhnya perumpamaan Isa di sisi Allah adalah seperti Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian berkata ‘Jadilah!’, maka iapun jadilah” [Ali-Imran : 59]

Kemudian tanah tersebut –dalam ayat- dibasahi sehingga menjadi tanah liat yang lengket, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya : Dan sungguh kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah” [Al-Mu’minun : 12]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya : Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat” [Ash-Shaffat : 11]

Kemudian, tanah tersebut berubah menjadi Lumpur hitam yang diberi bentuk. Dalam hal ini Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya : Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (=Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari Lumpur hitam yang diberi bentuk” [Al-Hijr : 26]

Kemudian setelah kering tanah tersebut berubah seperti tembikar. Ini dijelaskan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Artinya : Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar” [Ar-Rahman : 14]

Kemudian, Allah pun membentuk tanah tersebut menjadi bentuk yang Dia ingini ; lalu ditiupkan ruh kedalamnya dari ruh (ciptaan)-Nya. Tentang hal ini Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya : Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesunggguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari Lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka, bila telah Aku sempurnakan bentuknya dan telah Aku tiupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, tunduklah kamu kepadanya dengan cara bersujud” [Al-Hijr : 28-29]

Itulah fase perkembangan penciptaan Adam dari sudut pandang Al-Qur’an. Adapun perkembangan yang dialami keturunan Adam disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya.
“Artinya : Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah ; lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging ; lalu segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang ; lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging ; kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik” [Al-Mu’minun : 12-14]

Adapun tentang istri Adam (Hawa), Allah Subhanahu wa Ta’ala terangkan bahwa ia diciptakan dari Adam, sebagaimana tersebut dalam firmanNya.
“Artinya : Hai manusia, bertakwalah kamu sekalian kepada tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan dari diri itulah Dia menciptakan istrinya” [An-Nisa : 1]

[Fatawa Lil Lajnah Ad-Da’imah 1/68-70, Di salin ulang dari Majalah Fatawa edisi 1/I/Ramadhan 4123H Hal. 8 -9]

Proses Penciptaan Manusia
Oleh
Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta


Pertanyaan.
Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta ditanya : Ruh ditiupkan ke dalam janin setelah berumur empat bulan. Apakah dari pernyataan tersebut bisa dipahami bahwa sperma yang telah bersatu dengan indung telur wanita dan menjadi bakal janin sebelumnya tidak memiliki ruh ?

Jawaban.
Setiap sperma dan indung telur wanita (memiliki) kehidupan yang sesuai dengan tabi’atnya, tentu jika selamat dari penyakit. Keduanya, (yaitu sperma dan indung telur) telah dipersiapkan dan ditakdirkan oleh Allah untuk saling menyatu, lalu menjadi zigot ; dan zigot ini juga hidup dengan kehidupan yang sesuai dengan tabi’atnya pada masa perkembangan dan perubahan dalam waktu yang telah tertentu ; kemudian jika telah ditiupkan ruh kedalamnya akan berlangsunglah kehidupan yang baru dengan izin Allah yang Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.

Dan betapapun manusia mengerahkan seluruh upayanya, sekalipun seorang dokter yang ahli maka tidak akan dapat meliputi pengetahuan tentang rahasia kandungan, sebab-sebab dan perkembangannya ; jikapun ada (sedikit) pengetahuan mereka tentang (kandungan) itupun setelah diberi pengetahuan (sebelumnya), (melakukan) penelitian dan percobaan sebagian a’radh (teori-teori) dan keadaan-keadaan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah. Dan segala sesuatu pada sisiNya ada ukurannya. Dialah Yang Maha Mengetahui perkara yang ghaib maupun yang nampak, Maha Besar lagi Maha Tinggi” [Ar-Rad : 8-9]

Dan firmanNya Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Sesungguhnya hanya ada padaNya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat ; dan Dialah yang menurunkan hujan, dan mengetahui yang ada dalam rahim” [Luqman : 34]

Semoga shalawat tercurah kepada Nabi, keluarganya dan sahabat-shabatnya.
[Fatawa Li Al- Lajnah Ad-Da’imah 1/70, Fatwa no. 2612 Di susun oleh Syaikh Ahmad Abdurrazzak Ad-Duwaisy, Darul Asimah Riyadh. Di salin ulang dari Majalah Fatawa edisi 2/I/Syawwal 1423H Hal. 5]
APA YANG HARUS DIPERBUAT OLEH Seorang Muslim Yang Hidup Di Tengah-Tengah Suasana Yang Penuh Dengan Kemungkaran
 

Selasa, 17 Februari 2004 14:50:42 WIB
Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Baz

Pertanyaan.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya : "Saya adalah seorang pemudi yang tinggal di daerah pedalaman bersama-sama para pelajar puteri. Alhamdulillah, Allah telah memberikan saya petunjuk kepada jalan kebenaran dan saya berpegang teguh kepadanya, tetapi saya sangat sedih sekali karena melihat di sekitar saya penuh dengan kemaksiatan dan kemungkaran, khususnya sebagian teman-teman pelajar puteri, seperti mendengar nyanyian, ghibah dan adu domba. Saya telah menasehati mereka tetapi sebagian mereka bahkan menghina saya dan mengolok-olok saya serta mengatakan bahwa saya adalah orang yang kolot. Saya mohon jawaban dari anda, apa yang harus saya perbuat ? Semoga Allah memberi anda pahala.

Jawaban.
Kewajiban anda adalah mencegah kemungkaran dengan semampunya, dengan ucapan yang baik, lemah lembut dan tutur kata yang baik serta menyebutkan ayat-ayat serta hadits-hadits yang sesuai dengan kondisi tersebut yang anda ketahui, lalu jangan ikut serta dengan mereka dalam bernyanyi dan tidak pula dalam ghibah serta tidak dalam perkataan dan pekerjaan haram lainnya. Jauhkan diri anda dari mereka sampai mereka membicarakan masalah yang lain, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.


"Artinya :
Dan apabila kamu melihat orang yang memperolok-olokan ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain dan jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zhalim itu sesudah teringat kembali (akan larangan tersebut)" [Al-An'am : 68]

Ketika anda menolak kemungkaran dengan lisan sesuai dengan kemampuan anda serta menjauhi perbuatan mereka, niscaya pekerjaan mereka tidak membahayakan anda dan tidak pula aib mereka menimpa anda sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.

"Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu ; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk, hanya kepada Allah kamu semua kembali. Maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan" [Al-Maidah : 105]

Allah Subhanahu wa Ta'ala menerangkan bahwa orang mukmin tidak akan terkena mudharat dari orang-orang sesat apabila ia selalu dalam kebenaran dan istiqamah dalam petunjuk. Hal tersebut dengan menolak kemungkaran dan tetap dalam kebenaran, serta ajakan yang baik menuju jalan-Nya.

Niscaya Allah akan menjadikan jalan keluar untuk anda dan memberikan
petunjuk kepada mereka apabila anda bersabar dan hanya mengharapkan pahala dari Allah. Saya memberi kabar gembira kepada anda dengan kebaikan yang banyak dan akibat yang terpuji selama anda selalu konsisten dalam kebenaran, menolak segala sesuatu yang mengingkarinya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

"Artinya : Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertaqwa" [Al-A'raf : 128]
"Artinya : Maka bersabarlah, sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertaqwa" [Hud : 49]
"Artinya : Dan orang-orang yang berjihad (untuk mencari keridhaan) kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat baik" [Al-Ankabut : 69]

Semoga Allah memberi anda taufik untuk melaksanakan perbuatan yang
diridhai-Nya dan memberi anda kesabaran dan keteguhan hati serta memberi taufiq saudara-saudara anda, keluarga anda dan teman-teman anda untuk melaksanakan perbuatan yang diridhai-Nya. Sesungguhnya ia Maha Mendengar lagi Maha Dekat. Dialah yang memberi petunjuk menuju jalan yang lurus.

[Al-Fatawa Al-Jami'ah Lil Mar'atil Muslimah (Fatwa-Fatwa Tentang Wanita -3), hal. 204-206, Darul Haq]

Amal Ikhlas
Gak berbekas...

Dahulu kala di Madinah, orang – orang fakir dan miskin pada waktu pagi sering mendapati gandum didepan pintu – pintu rumah mereka.
Mereka tak pernah tahu siapa yang meletakkan gandum – gandum tersebut pada malam harinya. Hal ini berlangsung selama beberapa waktu, sampai akhirnya sedekah misterius tidak pernah nongol lagi.
Pada saat yang bersamaan, Ali bin Husain Zainal Abidin –cicit- Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam meninggal dunia.

Tatkala orang – orang memandikan jenazahnya, maka terlihat bekas menghitam di punggungnya. Mereka lantas bertanya, “Apakah ini ?”, sebagian mereka menjawab, “Beliau biasa memanggul karung gandum di waktu malam untuk dibagikan kepada orang – orang fakir dan miskin di Madinah”. Ternyata beliau-lah yang selama ini yang selalu membagikan gandum kepada para fakir miskin di Madinah. Masyarakat madinah berkata, “Kami selalu mendapatkan sedekah misterius hingga meninggalnya Ali bin Al Husain”.
Itulah salah seorang salaf yang berusaha beramal secara sembunyi – sembunyi untuk menjaga kemurnian amalnya, sehingga tiada hati yang bangga karena amalnya dilihat orang. Subhanallah !
Karena amalannya hanyalah untuk mengharap ridha Allah Subhanahu wa ta’ala semata. Manusia yang menyadari siapa dirinya tentu berusaha memenuhi hak – hak Penciptanya. Selain agar ia selamat sejahtera di dunia dan akhirat, ibadah itu sendiri adalah tujuan penciptaan dirinya. Ibadah yang berguna hanyalah ibadah yang ditujukan hanya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala semata, tidak kepada yang lainnya. Dalam beramal, itu merupakan salah satu syarat diterimanya ibadah tersebut...itulah ikhlas.

Hanya untuk Allah Subhanahu wa ta’ala semata
Ikhlas, mudah diucapkan, susah dilaksanakan...karena harus meniadakan sesembahan selain Allah juga meniadakan unsure lain lain yang dicari selain Allah Subhanahu wa ta’ala, baik itu harta dunia ataupun popularitas. Allah telah berfirman di dalam kitab-Nya yang artinya,
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” ( Al Bayyinah : 5 )
Dalam sebuah hadits qudsi, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, yang artinya :
Allah berfirman, “Aku adalah yang paling tidak membutuhkan persekutuan dari sekutu – sekutu yang ada. Barangsiapa mengerjakan suatu amal, yang didalamnya ia menyekutukan selain-Ku, maka dia menjadi milik yang dia sekutukan tersebut dan Aku berlepas diri darinya.” ( HR. Muslim )
Banyak definisi tentang ikhlas ini. Ada yang berpendapat, ikhlas itu menunggalkan Allah dalam tujuan ketaatannya. Sebagian mengatakan bahwa ikhlas adalah membersihkan perbuatan dari perhatian makhluk. Dan yang lain bilang, ikhlas adalah menjaga amal dari perhatian manusia, termasuk pula diri sendiri. Perbedaannya hanya sebatas dalam kata – kata, tetapi maksudnya sama.
Inilah substansi kalimat “La ilaha ilallah”, tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata.

Meniti derajat keikhlasan
Imam Al-Harawi mengatakan bahwa derajat pertama dari keikhlasan adalah tidak melihat amal sebagai amal, tidak mencari imbalan amal dan tidak puas terhadap amal.
Seorang hamba harus menutup mata terhadap amalnya jika ia mau merendah diri dan bersaksi bahwa amal itu datang atau bisa dikerjakannya karena karunia dan taufiq dari Allah Subhanahu wa ta’ala.
Amal itu datang tidaklah dari dirinya semata, ada kehendak Allah Subhanahu wa ta’ala dibalik amal – amal tersebut dan sekali lagi bukan dari dirinya semata. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya,
”Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam.” ( At Takwir : 29 )...la hawla walaquwwata illah billah !
Derajat kedua dari keikhlasan adalah menyadari dan malu terhadap segala kekurangan  amalnya sendiri sambil tetap berusaha, berusah sekuat tenaga membenahi amal dengan tetap menjaga kesaksian dan memelihara cahaya taufiq yang dipancarkan Allah Subhanahu wa ta’ala. Hamba yang merasa malu kepada Allah Subhanahu wa ta’ala karena amalnya, karena dia selalu merasa amal itu belum layak dipersembahkan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, tetapi amal itu tetap diupayakan. Sedangkan memelihara cahaya taufiq yang dipancarkan Allah Subhanahu wa ta’ala adalah bahwa dengan cahaya itu kita bisa tahu bahwa amal kita semata karena karunia dari Allah Subhanahu wa ta’ala, dan bukan kerna diri kita sendiri semata.
Masih menurut Al Imam Al Harawi, derajat ketiga dari keikhlasan adalah memurnikan amal dengan memurnikannya dari amal, yakni membiarkan amal berlalu berdasarkan ilmu, tunduk kepada hukum kehendak Allah Subhanahu wa ta’ala dan membebaskannya dari sentuhan symbol – symbol. Memurnikan amal dengan memurnikannya dari amal ditafsiri dengan kalimat berikutnya, yakni membiarkan amal itu berlalu berdasarkan ilmu dan tunduk kepada hukum Iradah Allah Subhanahu wa ta’ala. Artinya adalah seorang hamba hendaknya beramal berdasarkan dua perkara.
Pertama, perintah dan larangan.Yang berkaitan dengan apa yang harus dikerjakannya dan ditinggalkannya.
Kedua, qadha dan qadar yang berkaitan dengan iman, kesaksian dan hakikat. Dengan begitu, hamba bisa melihat hakikat dan bertindak berdasarkan syari’at.
Dua perkara inilah, penghambaan yang dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya yang artinya,
”Al-Qur’an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, yaitu bagi siapa diantara kalian yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam.” ( At Takwir : 28 - 29 )
Membiarkan amal berlalu berdasarkan ilmu merupakan kesaksian firman-Nya yang artinya,
“Bagi siapa di antara kalian yang mau menempuh jalan yang lurus”.
Sedangkan ketundukan kepada hukum kehendak / iradah Allah Subhanahu wa ta’ala, merupakan kesaksian atas firman-Nya yang artinya,
“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam.”
Kemudian yang dimaksud dengan membebaskan amal dari symbol – symbol adalah membebaskan amal dari penghambaan selain Allah Subhanahu wa ta’ala. Apapun selain Allah hanyalah rupa yang tampak dari luarnya saja.
Orang yang beruntung adalah orang yang dapat mencapai ketiga derajat keikhlasan tersebut. Tentunya ini bukanlah hal yang mudah. Ikhlas harus diusahakan ketika pertama kali akan beramal, ketika sedang beramal dan saat berakhirnya suatu amalan. Bahkan, ingatlah selalu ; ”Orang yang masih merasakan ikhlas bukanlah orang yang punya keikhlasan sejati...”
*( Alwi Said )


Diketik ulang dari Majalah NIKAH edisi 2/I/2002
dengan sedikit penyesuaian